Jika dicermati secara teliti, baik itu dari literasi atau pun berita media massa, maka bisa terdeteksi adanya semacam alur keterkaitan antara bisnis gelap narkotika dan senjata, yang diduga dikendalikan oleh aparatus intelijen global, dengan tujuan mencari dana tambahan bagi operasi tertutup maupun terbuka demi 'mengamankan bergulirnya globalisasi ke seluruh pelosok dunia'.
Ketika masih berlangsung perang dingin antara ideologi komunisme versus kapitalisme, para aparatus intelijen dunia Timur dan Barat memperoleh suplai dana yang melimpah tanpa pengawasan parlemen untuk saling bertarung, yang berujung dengan kemenangan kapitalisme Barat yang lantas berganti nama memproklamirkan diri menjadi ideologi globalisme atau lebih populer disebut globalisasi.
Semenjak globalisasi merebak, mendadak parlemen di banyak negara pengusung dan pengikut globalisasi mulai rewel dan risi melihat bujet aparatus intelijen global yang digelontorkan secara besar-besaran dan nyaris tanpa pengawasan. Akibatnya anggaran operasi intelijen mulai dikurangi sehingga aparatus intelijen global mulai melirik terjun mencari sumber-sumber dana ilegal dari bisnis gelap narkotika dan senjata; untuk membiayai operasi mereka di seluruh dunia tanpa perlu melapor dan tanpa pengawasan parlemen, karena anggarannya tidak diperoleh dari uang legal yang bersumber dari rakyat pembayar pajak.
Para pemimpin dunia bukannya tidak tahu hal ini -- terkecuali para pemimpin negeri ini yang saking polosnya rasanya kurang paham soal-soal seperti ini -- namun tak bisa berbuat banyak sehingga berlagak pilon: di atas tanah gembar-gembor memberantas bisnis haram narkotika dan senjata, namun di bawah tanah tutup mata mengamini maraknya bisnis gelap narkotika dan senjata demi perolehan tambahan anggaran guna membiayai kerja aparatus intelijennya mengamankan akselerasi globalisasi di muka bumi yang nyata-nyata butuh pasokan dana tak terbilang dibanding semasa perang dingin dulu.
Jika dalam uraian ini bisa terasa nilai obyektivitasnya, maka patut disimpulkan bahwa kobaran semangat pemerintah negeri ini untuk mengeksekusi tanpa henti dan tanpa pandang bulu keseluruhan terpidana mati narkotika, dengan alasan hendak meredusir persebaran narkotika dan demi menjungjung kedaulatan negara, justru terasa salah kaprah bak pungguk merindukan bulan!
Sebab, melihat anatomi bisnis haram narkotika dan senjata, maka membasminya pun hanya efektif jika diaktualisasi melalui rangkaian operasi kontraintelijen semesta dan kolektif yang melibatkan partisipasi semua aparatus keamanan negara berikut ragam warga masyarakat dari berbagai kelas sosial, anak-anak muda, aktivis LSM, aktivis mahasiswa, para guru dan dosen, seniman, sastrawan, pemusik, pekerja seni, awak media, pengurus osis, pemimpin informal, agamawan, kaum profesional, dan ibu-ibu rumahtangga; barulah terbuka harapan peredaran gelap narkotika dan saudara sekandungnya berupa penjualan senjata, bisa ditangkal hingga ke akar-akarnya.
Tanpa strategi membumi, amunisi yang diletupkan akan berbalik menjadi senjata makan tuan...
Salam psikologi ...
⬜⬜ PsychopsycheStrategyCorps ⬜⬜⬜⬜⬜ Eksplorasi Sirkulasi ⬜⬜ Strategi➗Psikologi➗Fenomenologi | Think-tank Ψ Strategikal Psikologi
March 16, 2015
r e c o m m e n d a t i o n | Dinamika Bisnis Gelap Narkotika dan Senjata
r e c o m m e n d a t i o n | Menerima àtau menolak grasi manusia terpidana mati narkotika
Manusia, meminjam alam pikir kaum eksistensialis, bisa disebut sebagai mahluk yang tanpa jeda akan terus meng-ada, bereksistensi mengukuhkan makna keberadaan (jati) dirinya melalui relasi sirkuler saat ia mengambil inisiatif individual berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosialnya dalam pola: stimulus-respon-stimulus.
Manusia, mengacu sudut pandang psikologi fenomenologi, diurai selaku mahluk inspiratif serba istimewa dalam balutan perpaduan daging & roh: daging yang me-roh dan roh yang men-daging. Perpaduan roh-daging ini mau tak mau mengkonstruksi manusia menjadi produk yang unik, sekaligus serba rumit dan lumayan sulit untuk dipahami tatanan ragam perilakunya: mahluk ciptaan Sang Penguasa Alam yang seutuhnya terbilang paling kompleks.
Derajat kompleksitas manusia, sampai kapan pun, diyakini oleh banyak akhli psikologi, tidak mungkin bisa disetarakan, digambarkan, atau disederhanakan dengan jejeran notasi angka-angka statistikal semata, karena berpotensi meredusir analisis diagnostikal psikodinamika sosok kepribadiannya secara utuh selaku: sebuah sistem psiko-fisik yang beraktualisasi menjalani survival kehidupannya melalui upaya penyesuaian diri secara terus menerus dengan lingkungannya. Dalam proses penyesuaian diri inilah manusia akan mengalami fase jatuh-bangun meniti gelombang arus kehidupannya dalam siklus integrasi-desintegrasi-reintegrasi.
Menyelami pisau analisis kaum psikoanalis, terkristal pandangan, apakah kelak manusia secara individual atau komunal berkemungkinan untuk menjadi orang baik dan buruk, ramah atau judes, pemaaf atau pendendam, malaikat atau psikopat, introvert atau ekstrovert, homoseks atau heteroseks, feminin atau maskulin, agresif atau pasif, pemarah atau penyabar, pemimpin atau pengikut, supel atau kaku; bahkan terperosok menjadi pemadat, pemasok, pengedar, ataupun bandar narkotika pada akhirnya: banyak bersandar pada proses formatisasi kepribadiannya sedari usia balita yang tidak selalu bisa berlangsung secara adekuat, otonom dan terkontrol. Sehingga dikatakan manusia itu sesungguhnya mahluk yang penuh dengan misteri yang sebahagian besar pola perilakunya justru dikendalikan oleh alam bawahsadarnya.
Dengan demikian, seiring dengan bergeloranya rencana eksekusi mati terpidana narkotika secara berjamaah, maka untuk menjawab hingar-bingarnya polemik perlu tidaknya grasi hukuman mati bagi para narapidana narkotika tersebut, tentunya bagi sang pemberi/penolak grasi terasa perlu kiranya mempertontonkan ke hadapan publik nasional maupun internasional perspektif kedalaman dan keluasan pemahaman holistiknya menyangkut "binatang apakah sesungguhnya manusia pebisnis haram narkotika, manusia terpidana mati narkotika maupun manusia korban narkotika itu".
Jangan sampai terjadi situasi, di mana para terpidana mati narkotika yang sudah ataupun akan dieksekusi di Nusakambangan, ternyata hanyalah para "cecunguk" di seberang lautan yang tak punya makna apa-apa dalam pemberantasan peredaran narkotika, sebab aktor utamanya justru ada di pelupuk mata namun tak terlihat sang pemberi/penolak grasi.
Kepada mereka yang lebih suka bekerja ketimbang membaca, gemar menambah koleksi burung istana namun lupa membeli buku-buku sastra, semoga bisa semakin berhati-hati, rajin berkontemplasi, demi terhindar dari predisposisi jebakan kesemerawutan perangkap eksistensi semu citra suci kedaulatan negara di balik tirai rencana gelombang rombongan eksekusi mati para terpidana narkotika.
Salam psikologi...
February 13, 2015
r e c o m m e n d a t i o n | Berpikir dahulu sebelum bekerja ...
Seperti ungkapan bijak kaum fenomenolog, bahwa 'ikan melihat segala hal kecuali air', maka orang nomor satu negeri ini, di hari akhir tahun 2014 ini, boleh jadi telah melihat segala hal problematika anak bangsa kecuali problematika perubahan perilaku dirinya yang teramat drastis semenjak ia bermukim di istana.
Tutur katanya pun tak lagi humoris penuh vitalitas seperti dulu; yang terasa sekarang jika ia menjawab pertanyaan ataupun kritikan, adalah gumaman kata-kata bernuansa robotik, mengalir mekanistik seperti kaset yang berulang diputar yang acapkali memperlihatkan inkonsistensi ekspresi antara jalinan kata dengan raut muka.
Jadi mengapa harus serba terburu-buru membangun Indonesia?
Mari berpikir, berpikir, dan berpikir terlebih dahulu sebelum bekerja, bekerja, dan bekerja.
Salam psikologi ...
November 26, 2014
r e c o m m e n d a t i o n | Menyimak tatkala rekrutmen posisi VIP para calon menteri Presiden Jokowi
(:-:) Barangkali, hari-hari ini, kaum oposisi yang kini bermukim di parlemen, tengah tertawa-tawa tergelak, terbahak, terpingkal, melihat begitu banyak kecerobohan dibuat saat dilaksanakannya proses rekrutmen para calon menteri, yang terkesan tanpa pedoman, tanpa konsep, tanpa strategi, dan tanpa didukung perspektif keilmuan: alias amburadul. Maaf!
Bayangkan, bagaimana mungkin diterima akal sehat, tatkala muncul inisiatif istana untuk menskaning kejujuran finansial para calon menteri dengan meminta pendapat KPK, yang muncul justru sodoran laporan tertulis formal dari KPK yang meyakini sekaligus berisi labelisasi perilaku koruptif individu-individu tertentu calon menteri dalam rona warna merah (paling lama satu tahun bakal diciduk KPK) dan kuning (paling lama dua tahun bakal diciduk KPK); tanpa sedikit pun mempertimbangkan azas praduga tak bersalah yang lazim dikedepankan sebelum lahirnya suatu keputusan hukum yang tetap, final, dan mengikat terhadap dugaan telah melakukan kejahatan koruptif sebagaimana yang disangkakan terhadap beberapa individu calon menteri tersebut. Belum lagi laporan tertulis formal seperti itu mudah sekali bocor akibat keteledoran atau dibocorkan atas dasar kesengajaan. Kita jadi was-was dan kembali teringat ke era orde baru yang dikenang bisa dengan gampang melabelkan seseorang sebagai "merah", atau subversif, atau non-Pancasilais, tanpa melalui proses peradilan.
Maaf!
Dalam proses rekrutmen di level posisi VIP, di belahan dunia mana pun lazimnya dilakukan secara senyap, bersih dari berkas, di mana evaluasi akan integritas, kapabilitas, dan akseptabilitas, dijaring melalui pembicaraan antarpribadi antara pihak yang membutuhkan informasi dengan pihak yang dianggap kredibel memasok informasi yang dibutuhkan tersebut. Wajar jika istana membutuhkan informasi dari KPK dan wajar jika lantas KPK memasok informasi untuk istana, tetapi tidak dengan cara surat menyurat formal yang rawan sadap dan bocor, apalagi menabrak rambu rasa keadilan azas praduga tak bersalah, karena informasi yang diminta belum sah secara hukum, namun punya nilai strategis bagi istana. Akan terasa elegan jika proses penyampaian informasi cukup dilakukan lewat obrolan antarpribadi antara pihak istana dan KPK, mungkin sambil minum kopi di pagi hari. Maaf!
Amburadul dan hingar-bingarnya manajerial kantor transisi selaku tempat bercokolnya para pemikir istana yang nampaknya telah terperosok berkutat ke ranah administratif ketimbang strategik di bulan-bulan lalu, ditambah lagi berlanjut dengan kegaduhan nonproduktif dalam proses seleksi calon menteri selama seminggu ini, semoga tidak berdampak negatif, yakni menghadirkan keragu-raguan akan keterampilan manajerial maupun strategikal pihak istana itu sendiri.
Sekali lagi, maaf!
Sekali lagi, maaf!
Salam psikologi...
October 3, 2014
r e c o m m e n d a t i o n | Tritunggal presidensial Indonesia
(:-:) Sudah semakin nyata, Indonesia, dalam kurun waktu lima tahun mendatang, secara eksistensial akan dipimpin oleh 3 orang figur presiden, berpola tritunggal presidensial di mana: figurJokowi akan berkiprah selaku presiden formal di ranah pemerintahan, figur SBY akan terus berproses menjadi presiden informal penyeimbang dinamika perpolitikan, dan figur Prabowo yang nampaknya akan semakin lancar bergulir menata orkestrasi selaku presiden oposisional parlemen.
Masing-masing "presiden" ini saling memiliki "kelebihan" atau pun "kekurangan". Jokowi punya jangkauan infrastruktur, aparat, juga dana birokrasi yang gampang dimobilisasi, SBY punya banyak kawan serta paling paham sistem dan tarik-ulur geliat perpolitikan nusantara, sedangkan Prabowo punya potensi menstrukturi esensi maupun corak perundang-undangan yang hendak dilahirkan, dibekukan, diganti ataupun diperbaharui.
Kalau sejenak menengok ke belakang, model tritunggal presidensial pernah juga terjalin semasa rezim ode baru berkuasa, di mana Soeharto walau oleh rakyat kebanyakan dimitoskan sebagai penguasa tunggal, namun dalam persepsi kalangan elit ia terlihat berbagi kue kekuasaan dengan 2 figur lain: Widjojo Nitisastro selaku presiden teknokrat yang memegang kartu kepercayaan dunia Barat, dan Soedono Salim selaku presiden pebisnis yang memegang kepercayaan para pemilik modal dalam dan luar negeri, sedangkan Soeharto sendiri dipercaya sepenuhnya oleh TNI (ABRI). Mungkin Soeharto cerdas belajar dari kegagalan manajerial negeri seluas Indonesia oleh dwitunggal Soekarno-Hatta sehingga ia rela berbagi kekuasaan secara informal-eksistensial melalui langkah strategis merajut praksis tritunggal presidensial Soeharto-Widjojo-Soedono. Sayangnya kekompakan kerja sama tritunggal presidensial yang terbina membangun bangsa semasa orba, lambat laun di belakang hari tak lagi serasi dan mulai berjalan timpang kemudian retak tanpa ikatan, akibat ada kehendak Soeharto agak setengah memaksa untuk memasukkan Habibie pendatang baru dari Jerman yang ahistoris menjadi bagian tritunggal figur presidensial saat itu; yang nampaknya tidak diamini oleh dua figur lainnya. Akibatnya, harga yang harus dibayar menjadi teramat mahal, karena tanpa nyana saat krisis moneter menerjang negeri ini, Soeharto praktis harus menghadapinya sendirian, maka ia pun tumbang.
Hari ini kita belum bisa cepat tau, apakah tritunggal presidensial Jokowi-SBY-Prabowo, yang kebetulan terbentuk alami tanpa upaya rekayasa apa pun usai pilpres yang berlangsung meriah, akan menghadirkan berkah atau sumpah serapah, karena makna gestaltnya bergantung sepenuhnya pada keluwesan, kematangan, kedewasaan, dan kecerdasan intelektual maupun emosional di antara masing-masing figur terkait.
Walaupun orang Perancis bilang, sejarah senantiasa terulang!
Salam psikologi...
Masing-masing "presiden" ini saling memiliki "kelebihan" atau pun "kekurangan". Jokowi punya jangkauan infrastruktur, aparat, juga dana birokrasi yang gampang dimobilisasi, SBY punya banyak kawan serta paling paham sistem dan tarik-ulur geliat perpolitikan nusantara, sedangkan Prabowo punya potensi menstrukturi esensi maupun corak perundang-undangan yang hendak dilahirkan, dibekukan, diganti ataupun diperbaharui.
Kalau sejenak menengok ke belakang, model tritunggal presidensial pernah juga terjalin semasa rezim ode baru berkuasa, di mana Soeharto walau oleh rakyat kebanyakan dimitoskan sebagai penguasa tunggal, namun dalam persepsi kalangan elit ia terlihat berbagi kue kekuasaan dengan 2 figur lain: Widjojo Nitisastro selaku presiden teknokrat yang memegang kartu kepercayaan dunia Barat, dan Soedono Salim selaku presiden pebisnis yang memegang kepercayaan para pemilik modal dalam dan luar negeri, sedangkan Soeharto sendiri dipercaya sepenuhnya oleh TNI (ABRI). Mungkin Soeharto cerdas belajar dari kegagalan manajerial negeri seluas Indonesia oleh dwitunggal Soekarno-Hatta sehingga ia rela berbagi kekuasaan secara informal-eksistensial melalui langkah strategis merajut praksis tritunggal presidensial Soeharto-Widjojo-Soedono. Sayangnya kekompakan kerja sama tritunggal presidensial yang terbina membangun bangsa semasa orba, lambat laun di belakang hari tak lagi serasi dan mulai berjalan timpang kemudian retak tanpa ikatan, akibat ada kehendak Soeharto agak setengah memaksa untuk memasukkan Habibie pendatang baru dari Jerman yang ahistoris menjadi bagian tritunggal figur presidensial saat itu; yang nampaknya tidak diamini oleh dua figur lainnya. Akibatnya, harga yang harus dibayar menjadi teramat mahal, karena tanpa nyana saat krisis moneter menerjang negeri ini, Soeharto praktis harus menghadapinya sendirian, maka ia pun tumbang.
Hari ini kita belum bisa cepat tau, apakah tritunggal presidensial Jokowi-SBY-Prabowo, yang kebetulan terbentuk alami tanpa upaya rekayasa apa pun usai pilpres yang berlangsung meriah, akan menghadirkan berkah atau sumpah serapah, karena makna gestaltnya bergantung sepenuhnya pada keluwesan, kematangan, kedewasaan, dan kecerdasan intelektual maupun emosional di antara masing-masing figur terkait.
Walaupun orang Perancis bilang, sejarah senantiasa terulang!
Salam psikologi...
September 24, 2014
r e c o m m e n d a t i o n | Ahok...
Ahok yang tak lama lagi akan menjadi orang nomor satu di Batavia memang tergolong pria yang berkecerdasan tinggi. Sebagai individu yang super cerdas tak heran jika ia sering terkesan mudah frustrasi yang diekspresikannya dengan modus katarsis instan memarahi aparatus birokrasinya yang bertingkah laku keliru, yang boleh jadi tidak memiliki potensi kecerdasan seperti dirinya alias hanya seorang atau sekumpulan aparat serba medioker saja.Di dunia yang fana ini, entah mengapa, Tuhan tidak banyak menciptakan individu super cerdas (baca: genius). Mereka ini punya pola perilaku khusus, seperti mampu berfikir dan bertindak cepat mendahului ritme kelaziman lingkungannya bahkan zamannya, tidak suka mutar bertele-tele, mudah gonta-ganti pekerjaan, kawan-kawan, bahkan pasangan, cepat merasa bosan, malas berkompromi, tidak terlampau peduli dengan dukungan emosional ataupun finansial dari sekitar alias cenderung hidup dalam alam soliter, perfeksionis, dan hanya mau berkarya di bidang yang diminati.Orang seperti Ahok cukup banyak yang sukses namun lebih banyak lagi yang hidupnya berantakan akibat tergelincir dalam mekanisme perilaku proyeksi: menganggap orang lain sama seperti dirinya. Lupa menyadari dan kurang memahami bahwa orang genial itu bisa dihitung dengan jari.Dalam persepsi wanita, pria super cerdas lazim terlihat seksi, apalagi jika dibarengi tubuh atletis dan wajah enak dipandang seperti Ahok ini, maka tak heran jika seandainya: secara kolektif kaum hawa cepat punya perhatian istimewa dan bersimpati terhadap dirinya sedangkan sebaliknya kaum lelaki mudah terobsesi rasa iri hati dan rendah diri untuk sigap berkolaborasi mengoposisinya.Salam psikologi...
September 7, 2014
r e c o m m e n d a t i o n | Observasi perilaku narasi Jokowi kini
Krisis apa pun bentuknya -- semisal krisis sosial, finansial, politik, lingkungan, energi -- lazimnya muncul bukan karena proses alami, tetapi akibat direkayasa secara sengaja dengan cara menciptakan semacam suatu situasi ketidakseimbangan; bisa melalui pendekatan operasional lapangan atau otak-atik sistemik, juga penggabungan keduanya.
Penciptaan krisis bisa bertujuan terbatas semacam "testing the water" atau lebih luas lagi untuk upaya reduksi eksistensial seperti penggembosan, penggulingan, dan pengambilalihan secara "paksa".
Krisis bisa digulirkan oleh aparatus birokrasi sipil maupun militer, organisasi politik, kelompok bisnis, bahkan LSM.
Yang menarik justru krisis lebih berpeluang "hadir" di momentum transisional, karena di saat fase transisi ada semacam "ruang kosong" yang menggoda untuk "di isi" atau lebih tepatnya "di duduki".
Jadi tidak terlampau mengherankan jika di era transisi pergantian pemerintahan dari regionisasi SBY ke Jokowi, mendadak terpampang krisis antrian BBM.
Yang mengherankan dan mengkhawatirkan adalah respon Jokowi atas krisis pasokan BBM tersebut yang cenderung memperlihatkan narasi soliter, melankolik, impulsif, dan semi inferior. Ke manakah orang-orang pintar yang ada di belakang dirinya di kantor transisi yang telah dibentuknya itu selaku dapur pemikiran? Yang semestinya tidak membiarkan sang presiden terpilih ini seolah kini berjalan sedemikian "telanjang" tanpa "misteri" perisai pemikiran yang kokoh menopang dalam merespon isu-isu "empiris-liar" yang berseliweran di ruang-ruang kosong hingga saat pelantikan presidensial Oktober 2014 mendatang?
Penciptaan krisis bisa bertujuan terbatas semacam "testing the water" atau lebih luas lagi untuk upaya reduksi eksistensial seperti penggembosan, penggulingan, dan pengambilalihan secara "paksa".
Krisis bisa digulirkan oleh aparatus birokrasi sipil maupun militer, organisasi politik, kelompok bisnis, bahkan LSM.
Yang menarik justru krisis lebih berpeluang "hadir" di momentum transisional, karena di saat fase transisi ada semacam "ruang kosong" yang menggoda untuk "di isi" atau lebih tepatnya "di duduki".
Jadi tidak terlampau mengherankan jika di era transisi pergantian pemerintahan dari regionisasi SBY ke Jokowi, mendadak terpampang krisis antrian BBM.
Yang mengherankan dan mengkhawatirkan adalah respon Jokowi atas krisis pasokan BBM tersebut yang cenderung memperlihatkan narasi soliter, melankolik, impulsif, dan semi inferior. Ke manakah orang-orang pintar yang ada di belakang dirinya di kantor transisi yang telah dibentuknya itu selaku dapur pemikiran? Yang semestinya tidak membiarkan sang presiden terpilih ini seolah kini berjalan sedemikian "telanjang" tanpa "misteri" perisai pemikiran yang kokoh menopang dalam merespon isu-isu "empiris-liar" yang berseliweran di ruang-ruang kosong hingga saat pelantikan presidensial Oktober 2014 mendatang?
Salam psikologi...
August 22, 2014
r e c o m m e n d a t i o n | Kembali menuju pemolaan sistem segitiga politik Nusantara
Proses
dan pernak-pernik aktivitas yang terjalin dalam peradilan Mahkamah
Konstitusi yang baru saja usai digelar, diprediksi semakin lekat
mengukir tercetaknya sistem segitiga politik berbasis region figurisasi
Jokowi - SBY - Prabowo di ranah Nusantara ini.
Di era orde lama pernah coba dirancang sistem segitiga politik berbasis campuran aliran ideologi dan keagamaan yang melibatkan golongan Nasionalis - Agamis - Komunis. Sistem Nasakom ini gagal total karena Bung Karno terlampau dominan.
Di era orde baru sistem segitiga politik coba disempurnakan dan kembali diaplikasikan namun dengan mengandalkan orientasi yang lebih berbasis pada faham acuan pembangunan stabilitas ekonomi di bawah bendera kepartaian PPP - Golkar - PDI. Sistem ini bisa dibilang sukses menuai lompatan kemajuan kemakmuran anak bangsa, namun belakangan rontok juga akibat Pak Harto terlampau dominan.
Dalam perspektif psikologi sosial, sistem segitiga sosial (politik, kemasyarakatan, keorganisasian), diyakini sebagai sistem rekayasa makro-sosietal yang tergolong paling tangguh dan dinamis untuk manuver apa pun, baik bertahan, pengembangan, ataupun menyerang (ekspansi, infiltrasi, agresi); asalkan asumsinya terpenuhi, yakni: tidak ada figur yang dominan!
Salam psikologi...
Di era orde lama pernah coba dirancang sistem segitiga politik berbasis campuran aliran ideologi dan keagamaan yang melibatkan golongan Nasionalis - Agamis - Komunis. Sistem Nasakom ini gagal total karena Bung Karno terlampau dominan.
Di era orde baru sistem segitiga politik coba disempurnakan dan kembali diaplikasikan namun dengan mengandalkan orientasi yang lebih berbasis pada faham acuan pembangunan stabilitas ekonomi di bawah bendera kepartaian PPP - Golkar - PDI. Sistem ini bisa dibilang sukses menuai lompatan kemajuan kemakmuran anak bangsa, namun belakangan rontok juga akibat Pak Harto terlampau dominan.
Dalam perspektif psikologi sosial, sistem segitiga sosial (politik, kemasyarakatan, keorganisasian), diyakini sebagai sistem rekayasa makro-sosietal yang tergolong paling tangguh dan dinamis untuk manuver apa pun, baik bertahan, pengembangan, ataupun menyerang (ekspansi, infiltrasi, agresi); asalkan asumsinya terpenuhi, yakni: tidak ada figur yang dominan!
Salam psikologi...
r e c o m m e n d a t i o n | Tafsir atas perudalan pesawat sipil MH17 di Ukraina
Tafsir atas : perilaku penembakan rudal ke
pesawat sipil Malaysia yang berisi ratusan penumpang di atas langit
wilayah konflik Ukraina oleh sekelompok gerilyawan separatis (pro Rusia)tidak bisa
gegabah begitu saja dikatakan sebagai "salah tembak".
Dalam imaji asumsi psikologi : pe-Makna-an atas perilaku individu dan atau kelompok patut dikaitkan dengan seting sosial yang secara kontekstual melingkupinya.
Nyatanya di wilayah udara saat penembakan terjadi, pada hakekatnya tengah terjadi perebutan pengaruh geo politik antara AS (+Uni Eropa) vs Rusia yang bisa dipersonifikasikan menjadi simbolisasi duel "to be or not to be" antarkarakter "koboi" Obama vs "beruang" Putin.
Maka sang koboi pun mulai melakukan blokade ekonomi atas Rusia agar sang beruang mati lemas sehingga mundur segera dari keterlibatannya di Ukraina. Namun Putin selaku politisi senior paling lama berkuasa di dunia saat ini, yang konon lebih kokoh posisinya ketimbang para Tsar era kekaisaran Rusia, agaknya bukanlah "beruang boneka" apalagi "boneka beruang". Ia adalah beruang Rusia yang sesungguhnya, mantan intel yang terbiasa bekerja dalam sepi, berani ambil resiko berbahaya, punya nyali dan kecerdasan tinggi, terampil bela diri, dan tak pernah ragu untuk menyergap di jalan terang ataupun dikegelapan.
Dengan demikian perilaku merudal manusia mancanegara tak berdosa yang mayoritasnya warga Eropa yang tengah menumpang pesawat buatan Amerika di atas wilayah sengketa Ukraina itu bisa menjadi pertanda : Kremlin tengah mengasah kapak peperangan dalam skala yang lebih mengerikan lagi. Sayangnya hanya kanselir Jerman, Angela Merkel, yang bisa menangkap isyarat Kremlin ini, mungkin karena sang kanselir adalah wanita yang secara instingtif bisa merasa bahwa kapasitas daya kelahi Putin jauh di atas Obama?
Turut duka cita dari lubuk hati terdalam atas jatuhnya korban tak berdosa, semoga mereka memperoleh tempat Istimewa di sisi NYA. Amin...
Salam psikologi...
Dalam imaji asumsi psikologi : pe-Makna-an atas perilaku individu dan atau kelompok patut dikaitkan dengan seting sosial yang secara kontekstual melingkupinya.
Nyatanya di wilayah udara saat penembakan terjadi, pada hakekatnya tengah terjadi perebutan pengaruh geo politik antara AS (+Uni Eropa) vs Rusia yang bisa dipersonifikasikan menjadi simbolisasi duel "to be or not to be" antarkarakter "koboi" Obama vs "beruang" Putin.
Maka sang koboi pun mulai melakukan blokade ekonomi atas Rusia agar sang beruang mati lemas sehingga mundur segera dari keterlibatannya di Ukraina. Namun Putin selaku politisi senior paling lama berkuasa di dunia saat ini, yang konon lebih kokoh posisinya ketimbang para Tsar era kekaisaran Rusia, agaknya bukanlah "beruang boneka" apalagi "boneka beruang". Ia adalah beruang Rusia yang sesungguhnya, mantan intel yang terbiasa bekerja dalam sepi, berani ambil resiko berbahaya, punya nyali dan kecerdasan tinggi, terampil bela diri, dan tak pernah ragu untuk menyergap di jalan terang ataupun dikegelapan.
Dengan demikian perilaku merudal manusia mancanegara tak berdosa yang mayoritasnya warga Eropa yang tengah menumpang pesawat buatan Amerika di atas wilayah sengketa Ukraina itu bisa menjadi pertanda : Kremlin tengah mengasah kapak peperangan dalam skala yang lebih mengerikan lagi. Sayangnya hanya kanselir Jerman, Angela Merkel, yang bisa menangkap isyarat Kremlin ini, mungkin karena sang kanselir adalah wanita yang secara instingtif bisa merasa bahwa kapasitas daya kelahi Putin jauh di atas Obama?
Turut duka cita dari lubuk hati terdalam atas jatuhnya korban tak berdosa, semoga mereka memperoleh tempat Istimewa di sisi NYA. Amin...
Salam psikologi...
r e c o m m e n d a t i o n | Makna menarik diri dari rekapitulasi suara Pilpres 2014
Jika
direkonstruksi dalam abstraksi sosial, maka manuver dadakan menarik
diri dari proses finalisasi rekapitulasi suara, bisa kiranya dimaknai
sang aktor pelaku tengah mengaplikasi pendekatan teori konflik, yang
dalam perspektif psikososial bisa berdampak menstimulan pergeseran
posisi maupun peran individu dan atau kelompok yang terlibat dalam
pilpres menjadi berbeda dari apa yang tengah terpampang sekarang.
Memang penerapan teori konflik di dunia politik cukup banyak mendulang sukses untuk meraih kemenangan sehingga amat diminati para politisi belahan Timur & Barat; dengan catatan terpenuhinya asumsi bagi operasionalisasinya yakni: secara empirikal terdapat tidak lebih dari 2 poros (region) saja yang tengah berhadapan diametral.
Namun uniknya, usai pilpres tanpa terduga, secara alami terbentuklah 3 poros (region) politik bercorak segitiga sistemik: Prabowo-SBY-Jokowi di kancah politik anak bangsa.
Dalam seting sosial dan warna zaman seperti ini, maka aplikasi teori konflik diprediksi hanya akan mengintervensi ruang kosong berdampak hampa respon dan justru berpotensi mengkonstruksi energi balik menjadi bumerang pribadi ataupun kolektif yang bisa melumpuhkan aktor maupun poros (region) pemrakarsanya sendiri!
Salam psikologi...
Memang penerapan teori konflik di dunia politik cukup banyak mendulang sukses untuk meraih kemenangan sehingga amat diminati para politisi belahan Timur & Barat; dengan catatan terpenuhinya asumsi bagi operasionalisasinya yakni: secara empirikal terdapat tidak lebih dari 2 poros (region) saja yang tengah berhadapan diametral.
Namun uniknya, usai pilpres tanpa terduga, secara alami terbentuklah 3 poros (region) politik bercorak segitiga sistemik: Prabowo-SBY-Jokowi di kancah politik anak bangsa.
Dalam seting sosial dan warna zaman seperti ini, maka aplikasi teori konflik diprediksi hanya akan mengintervensi ruang kosong berdampak hampa respon dan justru berpotensi mengkonstruksi energi balik menjadi bumerang pribadi ataupun kolektif yang bisa melumpuhkan aktor maupun poros (region) pemrakarsanya sendiri!
Salam psikologi...
July 20, 2014
r e c o m m e n d a t i o n | Kebahagiaan bersama lebih diutamakan
22 Juli nanti akankah ada kebahagiaan?
Teringat ALBERT CAMUS, dalam SAMPAR: ... "tetapi kita bisa merasa malu karena bahagia sendirian, di saat orang-orang lain tidak turut merasakannya!" (Yayasan Obor Indonesia, 2006, alih bahasa NH. Dini)
Semoga sang pemenang tetap rendah hati agar semua orang merengkuh kebahagiaan bersama.
Salam psikologi...
r e c o m m e n d a t i o n | Dinamika psikososial usai pilpres 2014
Pilpres 2014 melahirkan 3 region politik berimbang antara Vektor 1 (Prabowo) dan Vektor 2 (Jokowi) dengan Resultante (SBY) selaku penyeimbang.
April 11, 2014
q u o t a t i o n | Perbuatan jelek di dunia... ~ ALBERT CAMUS
Perbuatan jelek di dunia hampir selalu
disebabkan oleh ketidak-tahuan, karena kebodohan. Sedangkan kemauan baik
yang tidak disertai pengetahuan bisa membuat kerusakan, sama parahnya
dengan kelakuan jahat. Pada manusia, biasanya lebih
banyak kebaikan daripada kejahatan. Dan sebenarnya bukan itu
masalahnya. Mereka hanya kira-kira saja mengetahui. Itulah yang disebut
sifat baik atau sifat jahat. Sedangkan sifat jahat yang paling
menyedihkan ialah kebodohan yang mengira mengetahui segalanya, merasa
diperbolehkan untuk membunuh. Jiwa seorang pembunuh itu buta. Tidak ada
kebaikan maupun cinta yang sesungguhnya yang tidak disertai kecerdasan
setinggi-tingginya.
-o0o-
Reference :
Albert Camus; 'SAMPAR', alih bahasa NH. Dini, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, April 2006.
Photo :
NATIONAL GEOGRAPHIC
January 26, 2014
q u o t a t i o n | 15 “Mood Changing” Quotes ~ Marla Gottschalk
Here are some of my favorite “mood changing” quotes. I hope they offer you what you might need to impact your day for the better.
Choose a job you love and you’ll never have to work a day in your life. – Confucius
It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it. – Lou Holtz
Do your work with your whole heart and you will succeed – there is so little competition. – Elbert Hubbard
All things are difficult before they are easy. – Thomas Fuller
The harder I work, the luckier I get – Samuel Goldwyn
Opportunities are usually disguised as hard work, so most people don’t recognize them. – Ann Landers
The secret of getting ahead, is getting started. – Mark Twain
It is not in the stars to hold our destiny, but in ourselves. – William Shakespeare
When we no longer can change a situation, we are challenged to change ourselves. – Viktor E. Frankl
There are two kinds of people, those who do the work and those who take the credit. Try to be in the first group; there is less competition there. – Indira Gandhi
Study the past, if you would divine the future. – Confucius
A career is wonderful, but you can’t curl up with it on a cold night. – Marilyn Monroe
Food, love, career and mothers, the four major guilt groups. – Cathy Guisewite
Believe you can and you are halfway there. – Theodore Roosevelt
Change your thoughts and you change your world. – Norman Vincent Peale
Reference:
Dr. Marla Gottschalk is an Industrial/Organizational Psychologist and coach. Read more of her posts at LinkedIn.
PHOTO ~ A Shepherd's Flock ~ Juan Aguilar ~ National Geographic
January 8, 2014
p e r i s c o p e | Jokowi-Ahok vs Perilaku Oktopusi Birokrasi
Oktopus adalah mahluk bertubuh lunak yang hidup di laut dengan ciri khasnya “bertangan banyak” (sea creature with a soft body and eight tentacles ~ Collins Dictionary). Adalah MAW Brouwer (1982), seorang ahli psikologi klinis merangkap kolumnis, yang pertama kali melontarkan istilah perilaku oktopusi ketika mencontohkan kasus wanita-wanita (istri, kekasih) yang punya kemampuan luar biasa dalam mengendalikan tindak-tanduk kaum pria (entah itu suaminya, atau kekasihnya), walau pria-pria yang “terjajah” secara mentalitas ini adalah seseorang yang telah mengenyam pendidikan tinggi, memiliki posisi penting entah di pemerintahan, di kemiliteran, atau pebisnis yang sukses, ada kalanya cukup bergelimang harta, atau bahkan berpenampilan lebih keren ketimbang sang wanita yang relatif berpendidikan biasa-biasa saja, berpenampilan sedang, berasal dari keluarga sederhana. Agaknya Brouwer mau menggambarkan realitas yang kerap dijumpainya, bahwa dari balik tirai postur fisik individu yang nampak lunak atau lemah gemulai, bisa lahir suatu kelebihan untuk survival yang tidak terduga, suatu kemampuan bermanuver ekstra luar biasa untuk mengendalikan perilaku seseorang ataupun sekelompok orang yang ada di sekelilingnya. Seperti oktopus yang memang bertubuh lunak, namun memliki “tangan banyak” yang senantiasa bergerak untuk menjaga kontinuitas kehidupannya.
Oktopusi birokrasi
Demikian pula halnya dengan pola perilaku birokrasi kita. Dihadapan para petinggi pemerintahan, komunitas birokrasi negeri ini selalu menampakkan postur diri yang serba lemah, tunduk, patuh, taat, siap menjalankan perintah kapan saja tanpa membantah. Tetapi ketika para bos pemerintahan sudah berlalu maka episode cerita aktualisasinya di lapangan bisa berbeda. Fenomena yang ada justru menggambarkan begitu banyak instruksi pimpinan mereka dari eselon atas tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Coba tengok saat rapat, mereka nampak cermat menyimak apa perintah pimpinan rapat selaku atasannya seakan-akan segera siap untuk dilaksanakan secara cepat, tetapi jangan salah duga, usai rapat korps birokrasi ini akan segera lupa dengan apa yang barusan didengarnya, lantas kembali sibuk dengan segudang kesibukan urusan masing-masing yang sudah diagendakannya sendiri. Segala sesuatunya kembali melambat seperti sediakala.
Masyarakat sesungguhnya sudah tahu, bahwa potret perilaku birokrasi negeri ini tidaklah terlampau menggembirakan. Mereka terbiasa bekerja tanpa asa, terkesan lemah tak bertenaga, tetapi dalam realitas empirisnya, justru memproyeksikan hal sebaliknya: sedemikian alot untuk berubah atau dirubah. Sedemikian dahsyat kekuatannya, melilit siapa saja yang berhubungan atau tengah ada keperluan mengurus ini dan itu, termasuk membelit sang pimpinan agar menjadi mandul, tak berkutik, terdikte, hingga akhirnya bergantung dan bergerak sesuai dengan irama kinerja birokratik yang dikehendaki mereka: tereduksi menjadi pemimpin formal birokrasi di eselon atas yang “terjajah” tanpa berkesanggupan mengendalikan dinamika aktivitas kinerja anak buahnya yang berada dalam posisi lebih bawah, lebih lemah. Wajar jika kita menyebutkannya sebagai perilaku oktopusi birokrasi.
Observasi partisipan penulis semenjak era reformasi menggumpalkan kesimpulan pribadi betapa bandel dan sulitnya merubah pola perilaku oktopusi birokrasi di ranah Ibu Pertiwi, di mana korps birokrasi tanpa suara, tanpa aba-aba, tanpa komando, bisa bergerak dalam langgam yang sama; serentak, setiap hari, dengan “seribu tangan” masif mengendalikan denyut kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sembari tanpa kenal lelah mematisurikan segenap motivasi para pemimpin yang tengah berupaya melakukan segudang perubahan sampai akhirnya keok kehilangan asa dan stamina berprestasinya. Untuk menutupi kegagalan diri dalam merombak kinerja birokrasi ini, maka kini sering dijumpai para pemimpin yang rajin berkatarsis tampil narsis di muka publik via media massa: berkompensasi dengan beriklan membesarkan postur diri - melampiaskan citra eksistensial abal-abal - bahwa dirinyalah sang pemimpin (atawa penghayal) sejati selaku “sang pengendali”.
Angin segar
Di tengah kegalauan publik menyaksikan potret perilaku oktopusi birokrasi, tanpa terduga muncul angin segar dari segelintir pemimpin muda yang berani tampil beda dan punya nyali untuk merombak kinerja birokrasi yang ada di wilayah tanggung jawabnya, antara lain sebut saja duet Gubernur Jakarta dan wakilnya yang akrab dipanggil Jokowi-Ahok . Tentunya di benak keduanya sudah ada insight, bahwa persoalan yang paling penting dan mendasar adalah perihal kinerja birokrasi yang kini tengah dipimpinnya, terutama menyangkut aspek kedisiplinan dan etos kerja. Tanpa melalui peningkatan disiplin dan etos kerja birokrasi, sulit rasanya menggelindingkan perubahan dan kemajuan yang signifikan, menularkan virus motivasi berprestasi setinggi mungkin, baik di lingkaran birokrasi itu sendiri maupun masyarakat luas.
Jokowi memulainya dengan membagi kerja antara dirinya dan wakilnya berdasarkan pada postur fisik dan personaliti masing-masing. Jokowi yang berpostur kurus, lincah bak kancil, agak introvert namun luwes, mengambil peran “feminin” selaku negosiator, motivator, dan aspirator melalui metoda blusukan. Ia mendatangi langsung, berbicara, mendengarkan keluhan maupun keinginan warganya dari hati ke hati sembari berkompromi mencari solusi. Sedangkan Ahok yang berpostur tubuh lebih berisi dan tegap, berpribadi agak kaku, ekstrovert namun tegas, menjalankan peran “maskulin” selaku administrator yang galak yang mengemban tugas menertibkan pelaksanaan peraturan maupun perundang-undangan tanpa pandang bulu sembari giat memompakan disiplin kolektif baik di lingkaran birokrasi maupun di kalangan masyarakat. Nampaknya perbedaan karakteristik fisik maupun personaliti duet Jokowi-Ahok menjadi berkah tersendiri karena menjadi magnit bagi media massa untuk terus menguntit dan memberitakan kiprah keduanya, berdampak positif mendongkrak popularitas sekaligus mempermudah mensosialisasikan beragam gagasan ke publik, termasuk gagasan melakukan lelang jabatan birokrasi agar bisa merekrut individu selaku abdi pemerintahan yang punya komitmen tinggi mau berprestasi sepenuh hati melayani warga kotanya, terutama loyal mengayomi rakyat kecil yang seringkali terpinggirkan dan terlantarkan.
Merenggang?
Jarang sekali kita jumpai di negeri ini ada pejabat publik yang punya kesanggupan mengendalikan aparatus birokrasinya seperti yang sudah diperlihatkan oleh Jokowi-Ahok. Kebanyakan para pejabat publik kita justru dikendalikan dan terperangkap dalam kungkungan para bawahannya. Namun kini muncul kekhawatiran baru, bahwa keberhasilan Jokowi-Ahok menundukkan eselon bawahannya dan sekaligus mengendalikan dinamika organisasi birokrasi tersebut, bisa memunculkan masalah baru yang krusial yang tak terduga, yakni melemahnya kohesi, sinergi, kekompakkan internalitas dalam tubuh Jokowi-Ahok itu sendiri. Dan jika itu terjadi, berarti lonceng pembaharuan dan pembenahan Jakarta nyaris tak berdenting nyaring lagi, bukan diakibatkan oleh ulah "musuh bersama" - perilaku oktopusi birokrasi - yang sudah berhasil ditaklukkannya itu; tetapi semata-mata karena perbedaan karakter, diskrepansi persepsi personal maupun latar belakang kultural di antara kedua pemimpin muda yang tengah naik daun tersebut. Jangan sampai usai "musuh bersama" telah tumbang, soliditas dua pribadi orang nomor satu dan dua Kota Jakarta bergulir merenggang. Semoga hal demikian tidaklah menjadi kenyataan ke depan. Amin!
K E P U S T A K A A N
MAW Brouwer; Ceramah-ceramah di Bandung, 1982.
Collins; Popular English Dictionary, HarperCollins Publishers, First Edition, Glasgow, 2009.
December 25, 2013
q u o t a t i o n | SIGMUND FREUD ~ Tuhan dan ambivalensi manusia...
Psikoanalisis terhadap individu-individu telah mengajari kami bahwa kesan-kesan (impressions) paling awal mereka, yang diterima pada waktu ketika mereka hampir belum dapat berbicara, menunjukkan dirinya kemudian dalam cara yang obsesif, walaupun kesan-kesan itu sendiri tidak diingat secara sadar. Kami merasa bahwa hal yang sama tentu juga berlaku (hold good) bagi pengalaman-pengalaman (experiences) manusia paling awal. Satu hasilnya adalah kemunculan konsepsi tentang Tuhan Satu Yang Agung. Ia dikenali sebagai suatu ingatan — yang sungguh terdistorsi, namun suatu ingatan. Ia memiliki sebuah kualitas obsesif; yang sekadar harus dipercayai. Sepanjang distorsi tersebut berlangsung, ia bisa disebut delusi; sepanjang ia memunculkan sesuatu dari masa lalu, ia harus disebut kebenaran. …
Dari Darwin saya meminjam hipotesis bahwa manusia aslinya hidup dalam kelompok-kelompok (horde) kecil; masing-masing kelompok berdiri di bawah pemerintahan seorang laki-laki yang lebih tua, yang memerintah dengan kekuatan brutal, mengambil semua wanita bagi dirinya, dan berulang-ulang memukul atau membunuh semua laki-laki muda, termasuk anak-anaknya sendiri. Dari Atkinson saya menerima masukan bahwa sistem patriarki ini berakhir oleh satu pemberontakan anak-anaknya, yang bersatu melawan ayahnya, menyergapnya, dan bersama-sama memakan tubuhnya. Mengikuti teori totem Robertson Smith, saya menyatakan bahwa kelompok yang sebelumnya diperintah oleh sang ayah ini berlanjut dengan sebuah klan saudara yang totemistik. …
Ambivalensi anak-anak terhadap sang ayah tetap kuat selama keseluruhan perkembangan selanjutnya. Sebagai ganti sang ayah binatang tertentu dinyatakan sebagai totem; yang berlaku sebagai nenek moyang mereka dan spirit yang melindungi, dan tidak satupun yang diijinkan untuk menyakiti atau membunuhnya. Tetapi, sekali setahun seluruh klan berkumpul untuk sebuah perayaan di mana totem sembahan, sebaliknya dicacah dan dimakan. Tidak seorangpun yang diperbolehkan pergi dari perayaan ini; itu adalah pengulangan pembunuhan ayah yang khidmat, dalam mana tatanan sosial, hukum-hukum moral, dan agama memiliki permulaannya.
SIGMUND FREUD; ‘Musa dan Monoteisme’, Jendela, 2003
Photo ~ NATIONAL GEOGRAPHIC
q u o t a t i o n | KENZABURO OE ~ Kualitas kepemimpinan...
Kualitas kepemimpinan yang luar biasa dari pria besar, dengan punggung bungkuk dan wajah pucat, ini sudah terlihat jelas dengan membuat kantor pemerintahan lokal terkepung -- sehingga memberikan tekanan pada musuh tanpa perlu memprovokasi tentara untuk bertindak -- dan mempertahankan keseimbangan kekuatan yang rawan antara masyarakat dan penguasa, sampai arah debat dalam dewan akhirnya berubah.
Tapi, kakek juga menyebutkan ini dalam pujiannya: "Hal yang paling menakjubkan, adalah tak ada seorang manusia pun yang tergores. Benar-benar diperlukan kepemimpinan yang luar biasa sehingga dia bisa menghimpun pergolakan sedemikian dahsyat tanpa membuat seorang manusia pun terluka."
Kenzaburo Oe; 'Jeritan Lirih', Jalasutra, 2004
Photo ~ NATIONAL GEOGRAPHIC
August 9, 2013
c o r p u s | Pengantar Filsafat Barat ~ Fuad Hassan
Filsafat adalah induk yang melahirkan berbagai cara pandang tentang manusia dan kemanusiaan sebagai manifestasi kehidupan yang bermatra kebudayaan dan peradaban. Manusia tidak membiarkan dirinya sekadar hanyut dalam arus peristiwa atau dibekukan oleh kenyataan. Bagi manusia, setiap kenyataan yang dihadapinya sekaligus berarti kemungkinan.Dengan penghayatan bahwa dunianya senantiasa menganga dan mengimbaunya untuk menemukan berbagai kemungkinan, maka manusia tidak putus-putusnya cenderung menjelajahi dunianya, termasuk penjelajahan yang nyaris tanpa batas dalam alam cita dan citra (a world of ideas and images), sehingga kehidupannya berciri nomadik.(FUAD HASSAN)
Buku 'Pengantar Filsafat Barat', karya Fuad Hassan ini, diterbitkan oleh Pustaka Jaya, pada bulan Maret tahun 2005, di Jakarta, dan merupakan cetakan ketiga. Sedangkan cetakan pertamanya diterbitkan tahun 1996, lalu cetakan keduanya di bulan Maret 2001, masih oleh penerbit yang sama.
Dalam perspektif penulisnya, kehadiran buku ini lebih dimaksudkan semacam: "Pembangkit perhatian terhadap filsafat sebagai suatu kesibukan manusia selama berabad-abad dan memberi corak khas pada cara pandang manusia terhadap alam sebagai makrokosmos dan dirinya sendiri sebagai mikrokosmos, dan selanjutnya berpengaruh atas perkembangan berbagai disiplin ilmu."
Almarhum Fuad Hassan bisa dikatakan sebagai individu genial yang dikaruniai beragam talenta. Ia tidak saja dikenal sebagai salah seorang begawan Psikologi Sosial, tetapi aktivitasnya merentang luas ke dalam relung-renung dunia diplomasi, pendidikan, budaya, juga strategi. Di samping aktivitas utamanya selaku gurubesar Fakultas Psikologi UI, ia pernah pula menjadi dutabesar RI untuk Mesir merangkap Sudan, Somalia, dan Djibouti, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Luar Neger RI, Anggota MPR-RI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anggota DPA-RI, Anggota Dewan Gubernur Asia-Europe Foundation (ASEF) mewakili Indonesia, Ketua Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).
Bagi Fuad Hassan, buku ini ditulisnya sebatas pengantar bagi para pembacanya untuk perkenalan awal berjumpa filsafat tanpa perlu merasa ada beban berat yang disandang, suatu perjumpaan yang moga-moga menstimulan gairah untuk berkelanjutan mendalaminya demi memperluas horizon berfikir kita, tanpa berpretensi menjadi sang filsuf instan usai rampung membacanya!
Berikut ini disajikan petikan-petikan intisari narasinya untuk dinikmati, dicermati, ataupun dikritisi:
- Filsafat adalah ikhtiar manusia untuk memahami berbagai manifestasi kenyataan melalui upaya berfikir sistematis (systema = keteraturan), tatanan, saling keterkaitan), kritis (kritikos = kemampuan menilai; kritein = memilah-milah), dan radikal (radix = akar). Dengan kata lain: filsafat ditandai oleh proses berfikir yang teratur sambil menilai sesuatu hal secara mendasar. Tidak semua proses berpikir ditandai oleh ketiga ciri tersebut . Kita berpikir memecahkan sesuatu hitungan, tetapi bukan berfilsafat tentang hitungan itu; kita bisa berpikir sewaktu memilih mana di antara sejumlah peralatan yang tinggi nilai kegunaannya; dalam hal ini pun kita tidak berfilsafat; dan banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa tidak semua proses berpikir adalah berfilsafat.
- Melalui proses berpikir yang sistematis dan kritis serta radikal itu, filsafat bertujuan memperoleh wawasan (insight) yang makin jelas tentang berbagai gejala, baik yang tampil sebagai fakta (fact) belaka ataupun yang berlangsung sebagai rangkaian peristiwa (process). Ini tidak berarti bahwa filsafat berhenti pada usaha pemahaman mengenai berbagai gejala tersebut secara kasuistik. Sebagai kasus yang tunggal (individual, particular) masing-masing gejala itu merupakan perantara untuk melakukan kegiatan berikutnya, yaitu pengamatan (observation) lebih lanjut yang memungkinkan pendekatan dengan penalaran (reason) serta penafsiran (interpretation), sehingga memungkinkan dirumuskannya kesimpulan yang berlaku umum (general, universal).
- Tidak semua gejala segera dapat dipahami melalui penalaran; berbagai segi yang melatari tampilnya sesuatu gejala seringkali cenderung ditafsirkan melalui pemikiran berdasarkan dugaan-dugaan yang bertolak dari sesuatu asas a priori dan bersifat spekulatif (Latin: speculari = mengamat-amati, speculum = menara pengamat). Misalnya, pemikiran yang beranjak pada asas nihil ex nihilo tentu beranggapan bahwa tidak ada sesuatu yang lahir dari ketiadaan; mustahil apa yang ada lahir dari kehampaan; dengan kata lain, mesti ada sesuatu di balik apa yang ada. Mesti ada sesuatu (daya) di balik lautan yang bergelombang, atau di balik gunung yang meletus, atau halilintar yang menyambar, dan sebagainya. Pendek kata, mesti ada sesuatu di balik apa yang ada dan teramati secara pisik. Dari cara pemikiran spekulatif itu muncullah ragam filsafat yang disebut metafisika, yaitu pemikiran yang berusaha menjangkau apa yang (mungkin) ada di balik sesuatu penampilan yang pisik. Metafisika boleh dianggap merupakan ragam berfilsafat yang tertua, dan berkembang sebagai kegiatan perenungan yang cenderung mendekat pada sistem kepercayaan.
- Karena tidak segala sesuatu terjawab dengan pasti melalui pemikiran metafisika, maka berkembang pula dugaan tentang masih adanya sesuatu rahasia (mysterion, mysterium, mystery) di balik segala kenyataan yang tampak; rahasia itu sulit ditangkap melalui pemikiran metafisika belaka, melainkan harus ditempuh melalui perenungan dan penghayatan akan adanya sesuatu yang tetap gaib; betapapun paradoksal kedengarannya -- ada tapi gaib -- segala rahasia itu tidak bisa diabaikan sebagai sumber pengaruh pada kenyataan sebagaimana tampilnya. Perenungan mengenai berbagai 'rahasia - di balik - kenyataan' sedemikian itu disebut mistik yang sebagaimana metafisika tidak didasarkan pada penalaran melainkan lebih bersifat spekulasi. Oleh karena menekankan tentang adanya sesuatu yang rahasia dan gaib, maka tidak jarang dalam mistik berbagai citra (image) berkembang sebagai kultus dan mitos yang diterima dan tidak mungkin diuji dengan penalaran (beyond reason).
- Berbeda dengan spekulasi, penalaran adalah proses berpikir yang teratur dan terarah secara progresif menuju pada suatu akhir (finality); teratur, karena penalaran harus mengikuti tertib (order) atau bagan (scheme) tertentu; terarah karena penalaran bergerak maju menuju tercapainya suatu penyimpulan sebagai tahap akhirnya. Penalaran berlangsung sebagai proses yang mengikuti tertib atau bagan berpikir tertentu, seperti misalnya silogisme, analogisme, teleologisme, determinisme kausal, dan sebagainya. Penalaran berlangsung sebagai proses berpikir dengan logika sebagai modus dasarnya. Maka ujian pertama terhadap upaya penalaran ialah sejauh mana prosesnya dikendalikan oleh logika; dengan kata lain, logika mengendalikan disiplin dalam proses penalaran.
- Karena penalaran selalu mempunyai tujuan (intention) untuk sampai pada dirumuskannya penyimpulan (concluding statement), maka sejak awalnya proses penalaran berlangsung dengan antisipasi pada tercapainya suatu tahap terminal. Ini jelas berbeda dengan khayalan (imagination) yang tidak perlu menuju pada sesuatu penyelesaian; sebaliknya, khayalan berlangsung sebagai proses yang tidak terkendali, bahkan mungkin sekali selama berlangsung makin berkembang dan membias. Melalui kegiatan penalaran inilah filsafat berusaha untuk menemukan adanya berbagai keteraturan (regularities), dalil (rules), hukum (laws), dan asas (principles) yang teramati melalui penampilan berbagai fakta dan peristiwa.
BERSAMBUNG ...
January 5, 2012
q u o t a t i o n | Raymond H. Hamden ~ The principles of an unhealthy nation:
The principles of an unhealthy nation:
• Trust is at a lower level of suspicion.
• Belonging is blind loyalty.
• Joy is having a life preoccupied with activity.
• Peace is absence of emotion.
• It is your leader’s job to make happiness in the In-Group.
• It is the other person’s fault.
• If they change, we will be happy.
• Don’t know what others feel!
• Become emotional or cold and callous!
• Ignore difference of opinions.
• Talk about the person, not dialogue.
• Bring up past failures to help the other person understand how wrong he/she is.
• Confront, don’t negotiate!
• Use addictions to lessen pain.
R e f e r e n c e:
A Dysfunctional Nation and Its People: Becoming Functional
Dr. Raymond H. Hamden
Clinical & Forensic Psychologist
Dr. Raymond H. Hamden
Clinical & Forensic Psychologist
Consultant in Forensic and Political Psychology
Specialties: Terrorist Psychology, CISD, Middle East Region
Read more:
http://www.all-about-psychology.com/psychology-research.html
Subscribe to:
Posts (Atom)











.jpg)


